Pagi itu di sebuah SD deket rumah. Dalam perjalanan ke kantor, gue menemukan percakapan menarik antara Indra kecil dengan ibunya. “Porno itu apa sih Ma?” demikian tanya si Indra ke ibunya. Sambil megangin Blackberry kakaknya untuk main game, sepertinya tanpa sengaja doi lihat tulisan porno di dalam bebe kakanya. Bisa ditebak dong reaksi si ibu seperti apa?
Obrolan ini terjadi beberapa waktu sebelum negara kita dihujani media dengan perseteruan antara pemerintah versus RIM (Research in Motion). RIM adalah perusahaan dari Kanada yang jualan Blackberry. Cara RIM jualan cukup menarik karena jualan hape yang sebenernya nggak bisa dikontrol sepenuhnya oleh pemerintah bahkan oleh pemiliknya sendiri. Kalo dilihat dari satu sisi mungkin merugikan pihak pengguna, namun dilain sisi, bebe memberikan akses informasi tanpa batas ke pada para pemiliknya, plus seabreg fitur lainnya, menjadikan bebe genggaman terfavorit saat ini.
Cerita lain, di masjid deket rumah. Waktu gue ngobrol sebentar setelah sholat berjamaah dengan salah satu tetangga gue, sebut saja tetangga saya Mr. Joni, doi juga mengeluhkan mengenai dampak dari teknologi di hape yang kian hari makin cerdas kayak anak sekolahan aja. Doi mengeluhkan dengan teknologi cerdas yang menyerang keluarganya, yang bikin anak-anaknya keasyikan dengan bebe, laptopnya, atau game psp yang sedang dimainkannya. Seringkali anak-anaknya kesal dan merasa sangat terganggu ketika dimintai tolong oleh orang tuanya.
Gue baca Republika (edisi 18/12/2010), di situ diberitakan mengenai data survey terbaru Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) Ponorogo secara acak selama enam bulan mengenai jumlah remaja putri di Ponorogo, yang pernah melakukan hubungan pranikah atau seks bebas ternyata mencapai kisaran 80 persen. Ciloko!
Belum lagi berita mengenai berbagai penyimpangan perilaku seksual di masyarakat. Oh no! Dalam satu diskusi nonformal disela acara pertemuan IT internasional yang pernah gue ikutin, gue kenalan sama orang Jepang. Doi nanyain mengenai Indonesia itu gimana sih? Ya gue jawab aja standar. Kalo bangsa kita bangsa yang santun dan berbudi luhur tinggi. Eh, kemudian dia nyeletuk, “Kalo emang gitu, kenapa ya log access ke situs pornografi dari IP address Indonesia selalu aja nongkrong dalam jajaran 5 besar, terutama untuk situs di jepang?” Ciloko! Gara-gara si Miyabi neh, mau bangga malah jadi tengsin gue!
Pencegah dan penyembuh
Bro en Sis, teknologi hanya salah satu bagian saja, ada sisi lain yang lebih mengkhawatirkan yaitu pornografi. Islam sebagai sebuah ideologi memandang manusia baik itu laki-laki dan perempuan mempunyai kewajiban untuk mentaati aturan Allah Swt. Dalam hal ini hubungan interaksi antara perempuan dan laki-laki. Islam menawarkan dua hal, yaitu perangkat pencegah dan piranti penyembuhan.
Instrumen pencegah agar terhindar dari pergaulan bebas dalam Islam paling tidak ada enam. Pertama, perintah untuk menahan pandangan dan menutup aurat (QS an-Nuur 24]: 30-31) dan (QS al-Ahzab [33]: 59). Bagi kaum hawa dilarang untuk menampakkan perhiasannya dan kecantikannya di hadapan laki-laki asing atau bertabarruj. Perlu diingat bahwa menjaga pandangan dan menutup aurat merupakan satu paket yang harus dikerjakan bersama oleh cowok dan cewek.
Kedua, Islam melarang khalwat (berdua-duaan) antara laki-laki dan wanita kecuali disertai mahramnya. Sabda Rasulullah saw. : “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali kali dia berduaan dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya adalah syaitan” (HR Ahmad)
Ketiga, Islam melarang wanita dan pria bercampur baur (ikhtilath) karena Islam menjaga dan menjadikan jamaah kaum wanita terpisah dari jamaah kaum laki-laki yang bukan mahram. Shaf sholat kaum wanita pun terpisah dari shaf sholat kaum laki-laki. Kecuali nih, pada tempat yang tidak memungkinkan untuk memisahkan keduanya, seperti aktivitas ibadah haji atau jual-beli di pasar.
Keempat, larangan mendekati zina, Allah Swt berfirman (yang artinya): “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (QS al Isra [17]: 32)
Kelima, Islam melarang seorang wanita melakukan suatu perjalanan selama sehari semalam, kecuali bila disertai mahramnya. Sabda Rasulullah saw. (yang artinya): “Tiada dihalalkan bagi seorang wanita yang percaya kepada Allah dan hari kemudian bepergian perjalanan sehari semalam kecuali bersama mahramnya” (HR Bukhari dan Muslim)
Keenam, anjuran untuk menikah. Firman Allah Swt.(yang artinya): “Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS an-Nuur [24]: 32)
Adapun untuk penyembuh/kuratif, Islam menyediakan sanksi yang tegas demi tegaknya kebenaran dan terselematkannya umat. Keselamatan di dunia dan di akhirat, sebagai jawabir (penebus dosa) dan zawajir (pencegah manusia yang lain melakukan perbuatan yang sama). Salah satunya hukuman bagi pelaku zina (kalo masih lajang dicambuk seratus kali cambukan dan bagi yang pernah menikah akan dirajam sampai mati).
Realita di sekitar kita
Solusi Islam sebenernya sudah komplit untuk menjaga umatnya dari bahaya pergaulan bebas yang dapat berujung pada aktivitas perzinaan. Walaupun begitu, masih sering banget tuh gue lihatin realita di sekitar kita yang entah kenapa masih mengabaikan aturan Islam. Dari pengamatan gue terhadap email, pertanyaan dan SMS yang sering masuk ke redaksi gaulislam, ternyata pertanyaan seputar interaksi cowok ama cewek, selalu menduduki peringkat tertinggi. Ok deh untuk sekedar mengingatkan berikut adalah pelanggaran-pelanggaran yang masih sering terjadi:
Pertama, pulang berdua. Sudah menjadi fitrah seorang cowok untuk bertanggung jawab dan menjadi pemimpin terhadap kaum wanita, dan sifat ini sudah muncul sejak dini. Sering kali beres sekolah, les, ekskul, dll, karena pulang ke arah yang sama maka akhwat pulang bersama di mobil or sepeda motor ikhwan.
Kedua, berhadapan secara langsung dalam jarak sangat dekat. Interaksi cowok sama cewek di sekolah emang sangat beragam, namun bila mereka berdiskusi dengan posisi berhadap-hadapan dalam jarak dekat, suasana menjadi sangatlah ‘cair’ dan rentan akan timbulnya ikhtilath. So, jagalah diri dengan membuat jarak dengan lawan jenismu.
Ketiga, nggak menundukkan/menahan pandangan (ghadul bashar). Seperti kata pepatah “Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati”. So jangan pernah mengikuti bujuk rayu temen yang mengatakan, “Ah, tidak perlu ghadul bashar, yang penting kan jaga hati!” Tapi manusia tidak bisa dan tidak mempunyai kontrol terhadap hatinya. Yang bisa kita lakukan untuk ‘menjaga hati’ kita adalah mengendalikan input hati tersebut, yang salah satunya adalah pandangan.
Keempat, duduk atau jalan berduaan. Duduk berdua di halaman sekolah untuk berdiskusi Islam (mungkin). Namun apapun alasannya, lingkungan sekolah nggak akan peduli, temen dan guru kita nggak mau ambil pusing, dengan apa yang sedang didiskusikan. Bagi mereka apa yang terlihat lebih jauh lebih menarik, dari sinilah pintu fitnah terbuka. Kalo kamu pengen menghindari fitnah semacam ini, sebenernya mudah kok, jangan pernah berduaan!
Kelima, menelopon padahal tidak urgen. Sudah jamak kalo kita sebagai manusia seneng ngobrol. Namanya juga mahluk sosial. Namun pastikan kalo kita ngobrol, ngobrolin hal yang berguna, misal: ngomongin soal aplikasi anti matter yang barusan ini ditemukan sama peneliti di MIT atau ngobrolin untuk koordinasi untuk dakwah di sekolah. Tetapi tetap kudu jaga hati jaga kualitas orbolan.
Keenam, SMS nggak penting. Ini paling sering gue dapetin. Hampir tiap hari mesti gue dapet junk sms. Sayang jempolnya dong, dipake buat hal yang nggak bermanfaat.
Ketujuh, berbicara yang diniatkan merayu atau memancing birahi. Hindari intonasi dan gaya bahasa seperti ini terutama bila berbicara dengan lawan jenis.
Kedelapan, curhat. Curhat berduaan akan menimbulkan kedekatan, lalu ikatan hati, kemudian dapat menimbulkan fitnah. Jadi, curhat dilakukan dengan sejenis saja. Toh pada dasarnya cewek adalah beda dengan cowok. Mereka adalah dua spesies yang berlainan. Kalo mau curhat dan nyambung dengan alami, nggak dibuat-buat atau dipaksain nyambung, mestinya ya curhat dengan sesama spesiesnya lah.
Kesembilan, chatting yang nggak penting. Tidaklah berdosa bila ingin menyampaikan hal-hal penting di YM atau facebook melalui fasilitas chat. Namun menjadi bermasalah bila topik pembicaraan melebar kemana-mana, jadi batesin diri secukupnya aja.
Kesepuluh, bercanda berlebihan. Sering gue lihat cewek-cowok bercanda berlebihan. Sebaiknya becanda dibatasi dan jangan dengan lawan jenisnya, dan tetap menjaga batas-batas kesopanan.
Semoga sedikit tips di atas dapet secara praktis ngebantu kamu semua untuk menjaga diri dari bahaya pergulan bebas. So, tentu saja apabila aturan Islam ini diterapkan secara menyeluruh (kaffah) tentu dalam bingkai negara (khilafah) insya Allah pergaulan bebas maupun penyimpangan perilaku seks yang merebak dapat dibendung Pastilah aturan yang dibuatNya adalah yang terbaik untuk manusia. Ok?
Jangan Mengeluh, Bro!
Semua orang pasti sudah merasakan penderitaan. Kita pernah merasakan sakit hati, kecewa, dan bahkan dikhianati. Itu luka hati. Di antara kita pernah juga luka fisik. Mungkin pernah juga ditimpa penyakit yang berat, atau bahkan sejak lahir sudah cacat. Apa yang kamu lakukan saat tertekan dan menderita?
Kamu terbiasa mengeluh? Menyalahkan keadaan? Atau malah menyalahkan orang lain yang kamu anggap punya andil dalam kegagalan dan penderitaan kamu?
Pada praktiknya banyak di antara kita yang sering ambil jalan pintas yang paling mudah, yakni mengarahkan telunjuk kita keluar. Celakanya lagi, banyak yang tak mau sedikitpun berusaha untuk interospeksi. Ada yang reaktif menyerang pihak lain, tak sedikit yang bisanya hanya mengeluh dan mengeluh.
Bro en Sis, nggak usah malu untuk mengakui bahwa diri kita tidaklah sempurna. Kegagalan adalah hal biasa. Kekalahan bukanlah akhir dari segalanya. Kecewa dan sedih bukanlah kiamat. Selama kita mau menghadapi kenyataan dengan realistis dan berusaha untuk mengubahnya, insya Allah masih ada waktu untuk memperbaikinya. So, tak perlu mengeluhkannya atau malah membuat kita hancur lebur di mata orang lain karena kita selalu menyalahkan mereka yang dianggap andil dalam kegagalan kita atau ketidakmampuan kita.
Interospeksi diri
Pernah dengar kan istilah buruk muka cermin dibelah? Yup, ungkapan ini cocok untuk menggambarkan orang yang nggak biasa berlapang dada. Kalo emang kalah, harusnya akui kekalahan. Kalo emang salah, akui kesalahan. Tak perlu juga mengeluh atau membela diri. Sportif gitu lho. Jangan malah ngamuk-ngamuk untuk menuding orang lain sebagai biang kegagalan dan kesalahan kita. Padahal, kitanya aja yang emang lemah dan nggak mampu.
Sikap lapang dada ini harus dipupuk sejak anak-anak. Kejujuran dan mau mengakui keunggulan orang lain harus dibiasakan sejak usia dini. Atau, kalo pun sekarang kita udah pada gede, maka mulailah belajar untuk lapang dada. Belum telat kok. Sebab, daripada capek-capek menyalahkan orang lain, kan mendingan mengevaluasi kemampuan diri sendiri. Simpel. Mudah pula. Betul?
Saya pernah tuh dimarahin waktu kerja di sebuah perusahaan supplier bahan kimia dan peralatan untuk laboratorium di Jakarta, ketika saya sekadar menasihati atasan saya untuk tidak melakukan aktivitas suap. Karena memang dalam Islam nggak boleh. Eh, bukannya kemudian diskusi untuk mencari titik temu atau paling nggak menanyakan lebih lanjut, dia malah bilang, “Saya tuh empat tahun nyantri di … (sensor: pokoknya pesantren terkenal di negeri ini). Tapi nggak fanatik kayak kamu”. Wacks!
Dia bilang begitu mungkin karena melihat saya yang lulusan sekolah kejuruan, bukan pesantren. Padahal, kalo mau berlapang dada, kan bisa nanya baik-baik, “Memangnya kamu tahu dari mana? Bagaimana penjelasannya?”. Kan bisa diskusi tuh. Jangan langsung bilang begitu sampe kudu banding-bandingin lamanya nyantri segala. Sebab, sangat percuma juga nyantri empat tahun atau mungkin lebih kalo di pesantren kerjanya cuma tidur melulu. Atau kalo pun belajar, tapi nggak serius. Setiap ikutan kajian cuma masuk telinga kanan, keluar lagi telinga kiri. Sehingga materi pelajaran tuh dibiarkan memantul sempurna alias nggak ada yang masuk. Gimana mo pinter?
Sikap lapang dada untuk menerima masukan itu sebenarnya nggak susah. Kalo memang kita mau terus merenung dan mengevaluasi kondisi kita. Kita ini kan manusia. Punya kelemahan dan keterbatasan. Itu sebabnya, membutuhkan dukungan yang lain. Dan, yang biasanya lebih mudah menilai kita ya orang lain. Ibarat cermin, kita itu akan dilihat oleh orang lain. Kan belum ada ceritanya kita bisa ngelihat wajah kita sendiri kalo nggak pake cermin atau benda sejenisnya yang bisa memantulkan gambaran diri kita. Iya kan?
Cermin memantulkan wajah asli kita. Begitu pun orang-orang di sekitar kita yang akan memberikan masukan kepada kita. Kalo kita salah, maka di antara mereka ada yang ngasih tahu kita. Jangan merasa menang sendiri. Coba deh, misalnya kita udah makan es cendol. Terus, lupa membersihkan mulut, kumis dan jenggot. Ketika ada orang yang bilang, “Mas, tuh ada cendol yang nyangkut di jenggot!”. Nah, karena kita nggak bawa cermin, orang lain yang lihat itulah yang mengingatkan karena tahu wajah kita dan tahu penampilan diri kita. Maka, dengan lapang dada kita ngucapin terima kasih. Betul? Tetapi kalo kita malah marah diingatkan, itu sih namanya nggak tahu diri.
Sama halnya ketika kita berbuat maksiat, kemudian ada orang lain yang mengingatkan kita. Sikap yang bagus tentunya kita berterima kasih karena ada orang yang mau mengingatkan kita. Sikap yang sama sekali nggak elok dan mungkin bisa dibilang bodoh adalah malah balik menyerang. “Kamu tahu apa sih tentang agama? Jangan khotbah di depan saya!” Wah, itu namanya nggak lapang dada. Tapi melakukan argumentum ad hominem alias argumentasi melawan orang. Yakni menimpakan kesalahan, kekesalan, dan kegagalan pada orang lain.
Terima kenyataan tapi jangan menyerah
Bro en Sis, selain kita kudu interospeksi, kita juga jangan putus asa. Interospeksi diperlukan agar kita mau sadar atas apa yang telah kita perbuat. Tetapi tentu saja nggak cukup cuma menyadari. Masih ada agenda yang harus dilakukan, yakni berusaha untuk memperbaiki kondisi dan jangan pernah menyerah.
Kata pepatah hidup ini nggak selamanya bisa memilih. Adakalanya kita harus rela menerima, sepahit apa pun kenyataannya. Nikmati saja. Nggak usah bingung, nggak usah jadi beban. Anggap saja kegagalan ini bagian dari dinamika hidup. Orang-orang yang lebih sentimentil suka bilang, ini seninya hidup. Duilee.. kedengarannya indah banget ya? Tapi bagus tuh, selain menghibur diri, juga belajar menikmati dengan senang hati terhadap sesuatu yang sebenarnya tak kita inginkan dan tak kita harapkan.
Kamu pernah nggak mengeluh ketika ditugaskan oleh ketua OSIS atau Rohis di sekolah? Bagi mereka yang suka mengeluhkan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya, alasannya seringkali banyak. Padahal intinya kamu manja campur malas. Misalnya, disuruh ngisi pengajian. Gaga-gara nggak ada sepeda motor lalu kamu malas. Tetapi untuk menutupi kemalasanmu, kamu berusaha self defence. Bahkan kemanjaan kamu ditampakkan juga dengan sedikit menimpakan kesalahan ke orang lain dengan beralasan, “Nih sepeda motor teman saya dipake bapaknya, jadi teman saya nggak bisa nganter saya deh ke pengajian. Lagi pula nih tiba-tiba penyakit maag saya kambuh.” Waduh! Kesannya emang jadi mendramatisir. Mengeluh dan sekaligus nyalahin orang.
Kondisi yang ‘mengkhawatirkan’ lainnya adalah, kalo kita berada pada posisi yang benar-benar menderita dalam kegagalan, tetapi kita mengeluh terus ketimbang berusaha mengubah kondisi itu. Setiap orang emang berbeda dalam cara meresponnya. Itu semua bergantung kepada pengalamannya dalam menikmati hidup ini. Bagi mereka yang kurang ‘terampil’ dan selalu lurus-lurus aja dalam hidupnya, maka bisa dipastikan, ia akan kaget berat menghadapi beratnya ujian. Beda ama yang udah biasa “pahit”, ia akan lebih dewasa dan bijak dalam bersikap. Tidak ada keluhan, yang muncul selalu optimis.
Yakinlah sobat, kalo kamu menghadapi persoalan sulit, dan jika kamu harus menelan rasa kecewa yang emang pahit itu, nikmati sajalah sebagai bagian dari dinamika hidup kita. Nikmati apa adanya. Yakin saja bahwa kamu bisa lolos dari tekanan itu atas pertolongan Allah Swt.
Kita harus yakin bahwa kita masih selalu bisa memperbaiki. Siapa tahu “ketahan-malangan” itu akan berguna di masa depan. Yakin saja sobat! Suatu saat kita akan terbiasa, dan terus mencari solusinya.
Badai pasti berlalu
Sobat muda muslim, satu hal yang perlu ditanamkan dalam diri kita adalah, rasa pasti bahwa kehidupan ini akan normal kembali, meskipun mungkin dalam beberapa kondisi kayaknya bisa dibilang tak menentu. Tapi yakinlah, itu hanya sementara waktu saja. Ibarat penyakit mah, dalam tahap pemulihan. Ibarat badai, pasti akan berlalu.
Bila kegagalan itu sangat membuatmu patah semangat dan patah hati, jangan mengeluh. Tetapi cobalah berani untuk membagi kesedihan dengan orang lain. Paling nggak dengan orang yang dekat denganmu. Insya Allah, dengan adanya shoulder to cry on—bahu untuk menangis, kita bisa menumpahkan segala kesedihan, amarah, termasuk emosimu yang lainnya setelah kegagalan itu kepada orang terdekat kita. Meskipun mungkin sangat sulit untuk memulainya. Tapi, cobalah lebih dekat dengan orang-orang yang spesial bagimu; kakakmu, ibumu, ayahmu, guru pengajian, guru di sekolah, atau bahkan dengan teman kamu yang kamu anggap cocok untuk curhat. Insya Allah bisa membantu.
So, jangan pernah terus mengurung diri dalam rasa kecewa yang amat dalam. Gagal itu biasa. Tapi berusaha terus, itu yang luar biasa. Jangan menyerah. Yakin saja, bahwa peristiwa itu akan sirna seiring perjalanan waktu, kepedihan perlahan-lahan akan lenyap sejalan dengan berlalunya waktu. Karena emang kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.
Oya, kamu juga bakal mengerti bahwa dalam upaya menghadapi sebuah kegagalan, kamu akan menjadi lebih kuat, lebih mudah beradaptasi, dan tentunya akan lebih pede menjalani hidup ini. Teruslah berusaha untuk berhasil. Lupakan kegagalan. Tak perlu mengeluh. Selain itu, kamu kudu berhenti mencari alasan untuk sebuah kegagalan. Jangan menyalahkan orang lain atas kegagalanmu atau ketidakmampuanmu melakukan sesuatu. Ok?
Kenapa harus berhenti mencari alasan? Saya menemukan sebuah pernyataan bagus dalam sebuah artikel motivasi yang dikirim seorang teman via e-mail. Di situ disebutkan bahwa kalo kamu fokus mencari alasan untuk sebuah kegagalan, kamu bisa temukan berjuta-juta dengan mudahnya. Namun, alasan tetaplah alasan. Ia takkan mengubah kegagalan menjadi keberhasilan. Kerapkali, alasan serupa dengan pengingkaran. Semakin banyak menumpuk alasan, semakin besar pengingkaran pada diri sendiri. Ini menjauhkan kamu dari keberhasilan; sekaligus melemahkan kekuatan diri sendiri. Berhentilah mencari suatu alasan untuk menutupi kegagalan. Mulailah bertindak untuk meraih keberhasilan.
Dalam artikel itu pun dijelaskan bahwa belajarlah dari penambang yang tekun mencari emas. Ditimbanya berliter-liter tanah keruh dari sungai. Ia saring lumpur dari pasir. Ia sisir pasir dari logam. Tak jemu ia lakukan hingga tampaklah butiran emas berkilauan. Begitulah semestinya kamu memperlakukan kegagalan. Kegagalan itu seperti pasir keruh yang menyembunyikan emas. Bila kamu terus berusaha, tekun mencari perbaikan di sela-sela kerumitan, serta berani menyingkirkan alasan-alasan, maka kamu akan menemukan cahaya kesempatan. Hanya mencari alasan, sama saja dengan membuang pasir dan semua emas yang ada di dalamnya.
Kita bisa mencontoh usaha tak kenal lelah Rasulullah saw. yang berjuang 13 tahun di Mekkah untuk menyebarkan Islam. Bukan tanpa kegagalan, tapi Rasulullah saw. selalu dapat bangkit kembali. Perjuangan beliau 10 tahun di Madinah pun, banyak menuai kegagalan. Tapi Rasulullah saw. tak gentar. Dakwahnya yang sering dicemooh kaum kafir Quraisy, beliau jadikan sebagai cambuk untuk terus melaju. Hasilnya? Sampai sekarang Islam menjelma menjadi sebuah kekuatan yang wajib diperhitungkan pejuang ideologi lain.
So, jika menghadapi kesulitan dan kerumitan dalam hidup, jangan menyerah, jangan mengeluh, jangan menyalahkan orang lain atas penderitaan kita. Bersikaplah realistis. Kita memang manusia. Punya kelemahan dan tentu saja keterbatasan. Keluhan tak ada artinya tanpa ada perbuatan untuk mengubahnya. Apalagi selalu mengeluh. Awalnya sih bisa dianggap wajar karena manusia kalo menderita ya langsung merespon dengan berbagai ungkapan dan perilaku, termasuk mengeluh. Tetapi kalo ngeluh terus dan selalu nyalahin orang lain, gimana kita mau belajar mencambuk diri kita? Iya kan? Kamu bisa kan mengubah dan memperbaiki diri menjadi yang terbaik? Insya Allah bisa selama kamu mau berusaha.
Bener banget! Tak sedikit yang berusaha bangkit, dan akhirnya mereka berhasil. Namun banyak juga yang sudah berkali-kali bangkit tapi harus jatuh pula berkali-kali. Mereka mengeluh? Ada yang mengeluh. Namun tak sedikit yang tetap fokus pada apa yang ingin diraihnya dan alhamdulillah berhasil. Maka, kuncinya adalah meluruskan niat, maksimalkan ikhtiar dan yakinlah bahwa Allah Swt akan menyempurnakannya dengan keberhasilan yang kita raih. Insya Allah.
Kamu terbiasa mengeluh? Menyalahkan keadaan? Atau malah menyalahkan orang lain yang kamu anggap punya andil dalam kegagalan dan penderitaan kamu?
Pada praktiknya banyak di antara kita yang sering ambil jalan pintas yang paling mudah, yakni mengarahkan telunjuk kita keluar. Celakanya lagi, banyak yang tak mau sedikitpun berusaha untuk interospeksi. Ada yang reaktif menyerang pihak lain, tak sedikit yang bisanya hanya mengeluh dan mengeluh.
Bro en Sis, nggak usah malu untuk mengakui bahwa diri kita tidaklah sempurna. Kegagalan adalah hal biasa. Kekalahan bukanlah akhir dari segalanya. Kecewa dan sedih bukanlah kiamat. Selama kita mau menghadapi kenyataan dengan realistis dan berusaha untuk mengubahnya, insya Allah masih ada waktu untuk memperbaikinya. So, tak perlu mengeluhkannya atau malah membuat kita hancur lebur di mata orang lain karena kita selalu menyalahkan mereka yang dianggap andil dalam kegagalan kita atau ketidakmampuan kita.
Interospeksi diri
Pernah dengar kan istilah buruk muka cermin dibelah? Yup, ungkapan ini cocok untuk menggambarkan orang yang nggak biasa berlapang dada. Kalo emang kalah, harusnya akui kekalahan. Kalo emang salah, akui kesalahan. Tak perlu juga mengeluh atau membela diri. Sportif gitu lho. Jangan malah ngamuk-ngamuk untuk menuding orang lain sebagai biang kegagalan dan kesalahan kita. Padahal, kitanya aja yang emang lemah dan nggak mampu.
Sikap lapang dada ini harus dipupuk sejak anak-anak. Kejujuran dan mau mengakui keunggulan orang lain harus dibiasakan sejak usia dini. Atau, kalo pun sekarang kita udah pada gede, maka mulailah belajar untuk lapang dada. Belum telat kok. Sebab, daripada capek-capek menyalahkan orang lain, kan mendingan mengevaluasi kemampuan diri sendiri. Simpel. Mudah pula. Betul?
Saya pernah tuh dimarahin waktu kerja di sebuah perusahaan supplier bahan kimia dan peralatan untuk laboratorium di Jakarta, ketika saya sekadar menasihati atasan saya untuk tidak melakukan aktivitas suap. Karena memang dalam Islam nggak boleh. Eh, bukannya kemudian diskusi untuk mencari titik temu atau paling nggak menanyakan lebih lanjut, dia malah bilang, “Saya tuh empat tahun nyantri di … (sensor: pokoknya pesantren terkenal di negeri ini). Tapi nggak fanatik kayak kamu”. Wacks!
Dia bilang begitu mungkin karena melihat saya yang lulusan sekolah kejuruan, bukan pesantren. Padahal, kalo mau berlapang dada, kan bisa nanya baik-baik, “Memangnya kamu tahu dari mana? Bagaimana penjelasannya?”. Kan bisa diskusi tuh. Jangan langsung bilang begitu sampe kudu banding-bandingin lamanya nyantri segala. Sebab, sangat percuma juga nyantri empat tahun atau mungkin lebih kalo di pesantren kerjanya cuma tidur melulu. Atau kalo pun belajar, tapi nggak serius. Setiap ikutan kajian cuma masuk telinga kanan, keluar lagi telinga kiri. Sehingga materi pelajaran tuh dibiarkan memantul sempurna alias nggak ada yang masuk. Gimana mo pinter?
Sikap lapang dada untuk menerima masukan itu sebenarnya nggak susah. Kalo memang kita mau terus merenung dan mengevaluasi kondisi kita. Kita ini kan manusia. Punya kelemahan dan keterbatasan. Itu sebabnya, membutuhkan dukungan yang lain. Dan, yang biasanya lebih mudah menilai kita ya orang lain. Ibarat cermin, kita itu akan dilihat oleh orang lain. Kan belum ada ceritanya kita bisa ngelihat wajah kita sendiri kalo nggak pake cermin atau benda sejenisnya yang bisa memantulkan gambaran diri kita. Iya kan?
Cermin memantulkan wajah asli kita. Begitu pun orang-orang di sekitar kita yang akan memberikan masukan kepada kita. Kalo kita salah, maka di antara mereka ada yang ngasih tahu kita. Jangan merasa menang sendiri. Coba deh, misalnya kita udah makan es cendol. Terus, lupa membersihkan mulut, kumis dan jenggot. Ketika ada orang yang bilang, “Mas, tuh ada cendol yang nyangkut di jenggot!”. Nah, karena kita nggak bawa cermin, orang lain yang lihat itulah yang mengingatkan karena tahu wajah kita dan tahu penampilan diri kita. Maka, dengan lapang dada kita ngucapin terima kasih. Betul? Tetapi kalo kita malah marah diingatkan, itu sih namanya nggak tahu diri.
Sama halnya ketika kita berbuat maksiat, kemudian ada orang lain yang mengingatkan kita. Sikap yang bagus tentunya kita berterima kasih karena ada orang yang mau mengingatkan kita. Sikap yang sama sekali nggak elok dan mungkin bisa dibilang bodoh adalah malah balik menyerang. “Kamu tahu apa sih tentang agama? Jangan khotbah di depan saya!” Wah, itu namanya nggak lapang dada. Tapi melakukan argumentum ad hominem alias argumentasi melawan orang. Yakni menimpakan kesalahan, kekesalan, dan kegagalan pada orang lain.
Terima kenyataan tapi jangan menyerah
Bro en Sis, selain kita kudu interospeksi, kita juga jangan putus asa. Interospeksi diperlukan agar kita mau sadar atas apa yang telah kita perbuat. Tetapi tentu saja nggak cukup cuma menyadari. Masih ada agenda yang harus dilakukan, yakni berusaha untuk memperbaiki kondisi dan jangan pernah menyerah.
Kata pepatah hidup ini nggak selamanya bisa memilih. Adakalanya kita harus rela menerima, sepahit apa pun kenyataannya. Nikmati saja. Nggak usah bingung, nggak usah jadi beban. Anggap saja kegagalan ini bagian dari dinamika hidup. Orang-orang yang lebih sentimentil suka bilang, ini seninya hidup. Duilee.. kedengarannya indah banget ya? Tapi bagus tuh, selain menghibur diri, juga belajar menikmati dengan senang hati terhadap sesuatu yang sebenarnya tak kita inginkan dan tak kita harapkan.
Kamu pernah nggak mengeluh ketika ditugaskan oleh ketua OSIS atau Rohis di sekolah? Bagi mereka yang suka mengeluhkan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya, alasannya seringkali banyak. Padahal intinya kamu manja campur malas. Misalnya, disuruh ngisi pengajian. Gaga-gara nggak ada sepeda motor lalu kamu malas. Tetapi untuk menutupi kemalasanmu, kamu berusaha self defence. Bahkan kemanjaan kamu ditampakkan juga dengan sedikit menimpakan kesalahan ke orang lain dengan beralasan, “Nih sepeda motor teman saya dipake bapaknya, jadi teman saya nggak bisa nganter saya deh ke pengajian. Lagi pula nih tiba-tiba penyakit maag saya kambuh.” Waduh! Kesannya emang jadi mendramatisir. Mengeluh dan sekaligus nyalahin orang.
Kondisi yang ‘mengkhawatirkan’ lainnya adalah, kalo kita berada pada posisi yang benar-benar menderita dalam kegagalan, tetapi kita mengeluh terus ketimbang berusaha mengubah kondisi itu. Setiap orang emang berbeda dalam cara meresponnya. Itu semua bergantung kepada pengalamannya dalam menikmati hidup ini. Bagi mereka yang kurang ‘terampil’ dan selalu lurus-lurus aja dalam hidupnya, maka bisa dipastikan, ia akan kaget berat menghadapi beratnya ujian. Beda ama yang udah biasa “pahit”, ia akan lebih dewasa dan bijak dalam bersikap. Tidak ada keluhan, yang muncul selalu optimis.
Yakinlah sobat, kalo kamu menghadapi persoalan sulit, dan jika kamu harus menelan rasa kecewa yang emang pahit itu, nikmati sajalah sebagai bagian dari dinamika hidup kita. Nikmati apa adanya. Yakin saja bahwa kamu bisa lolos dari tekanan itu atas pertolongan Allah Swt.
Kita harus yakin bahwa kita masih selalu bisa memperbaiki. Siapa tahu “ketahan-malangan” itu akan berguna di masa depan. Yakin saja sobat! Suatu saat kita akan terbiasa, dan terus mencari solusinya.
Badai pasti berlalu
Sobat muda muslim, satu hal yang perlu ditanamkan dalam diri kita adalah, rasa pasti bahwa kehidupan ini akan normal kembali, meskipun mungkin dalam beberapa kondisi kayaknya bisa dibilang tak menentu. Tapi yakinlah, itu hanya sementara waktu saja. Ibarat penyakit mah, dalam tahap pemulihan. Ibarat badai, pasti akan berlalu.
Bila kegagalan itu sangat membuatmu patah semangat dan patah hati, jangan mengeluh. Tetapi cobalah berani untuk membagi kesedihan dengan orang lain. Paling nggak dengan orang yang dekat denganmu. Insya Allah, dengan adanya shoulder to cry on—bahu untuk menangis, kita bisa menumpahkan segala kesedihan, amarah, termasuk emosimu yang lainnya setelah kegagalan itu kepada orang terdekat kita. Meskipun mungkin sangat sulit untuk memulainya. Tapi, cobalah lebih dekat dengan orang-orang yang spesial bagimu; kakakmu, ibumu, ayahmu, guru pengajian, guru di sekolah, atau bahkan dengan teman kamu yang kamu anggap cocok untuk curhat. Insya Allah bisa membantu.
So, jangan pernah terus mengurung diri dalam rasa kecewa yang amat dalam. Gagal itu biasa. Tapi berusaha terus, itu yang luar biasa. Jangan menyerah. Yakin saja, bahwa peristiwa itu akan sirna seiring perjalanan waktu, kepedihan perlahan-lahan akan lenyap sejalan dengan berlalunya waktu. Karena emang kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.
Oya, kamu juga bakal mengerti bahwa dalam upaya menghadapi sebuah kegagalan, kamu akan menjadi lebih kuat, lebih mudah beradaptasi, dan tentunya akan lebih pede menjalani hidup ini. Teruslah berusaha untuk berhasil. Lupakan kegagalan. Tak perlu mengeluh. Selain itu, kamu kudu berhenti mencari alasan untuk sebuah kegagalan. Jangan menyalahkan orang lain atas kegagalanmu atau ketidakmampuanmu melakukan sesuatu. Ok?
Kenapa harus berhenti mencari alasan? Saya menemukan sebuah pernyataan bagus dalam sebuah artikel motivasi yang dikirim seorang teman via e-mail. Di situ disebutkan bahwa kalo kamu fokus mencari alasan untuk sebuah kegagalan, kamu bisa temukan berjuta-juta dengan mudahnya. Namun, alasan tetaplah alasan. Ia takkan mengubah kegagalan menjadi keberhasilan. Kerapkali, alasan serupa dengan pengingkaran. Semakin banyak menumpuk alasan, semakin besar pengingkaran pada diri sendiri. Ini menjauhkan kamu dari keberhasilan; sekaligus melemahkan kekuatan diri sendiri. Berhentilah mencari suatu alasan untuk menutupi kegagalan. Mulailah bertindak untuk meraih keberhasilan.
Dalam artikel itu pun dijelaskan bahwa belajarlah dari penambang yang tekun mencari emas. Ditimbanya berliter-liter tanah keruh dari sungai. Ia saring lumpur dari pasir. Ia sisir pasir dari logam. Tak jemu ia lakukan hingga tampaklah butiran emas berkilauan. Begitulah semestinya kamu memperlakukan kegagalan. Kegagalan itu seperti pasir keruh yang menyembunyikan emas. Bila kamu terus berusaha, tekun mencari perbaikan di sela-sela kerumitan, serta berani menyingkirkan alasan-alasan, maka kamu akan menemukan cahaya kesempatan. Hanya mencari alasan, sama saja dengan membuang pasir dan semua emas yang ada di dalamnya.
Kita bisa mencontoh usaha tak kenal lelah Rasulullah saw. yang berjuang 13 tahun di Mekkah untuk menyebarkan Islam. Bukan tanpa kegagalan, tapi Rasulullah saw. selalu dapat bangkit kembali. Perjuangan beliau 10 tahun di Madinah pun, banyak menuai kegagalan. Tapi Rasulullah saw. tak gentar. Dakwahnya yang sering dicemooh kaum kafir Quraisy, beliau jadikan sebagai cambuk untuk terus melaju. Hasilnya? Sampai sekarang Islam menjelma menjadi sebuah kekuatan yang wajib diperhitungkan pejuang ideologi lain.
So, jika menghadapi kesulitan dan kerumitan dalam hidup, jangan menyerah, jangan mengeluh, jangan menyalahkan orang lain atas penderitaan kita. Bersikaplah realistis. Kita memang manusia. Punya kelemahan dan tentu saja keterbatasan. Keluhan tak ada artinya tanpa ada perbuatan untuk mengubahnya. Apalagi selalu mengeluh. Awalnya sih bisa dianggap wajar karena manusia kalo menderita ya langsung merespon dengan berbagai ungkapan dan perilaku, termasuk mengeluh. Tetapi kalo ngeluh terus dan selalu nyalahin orang lain, gimana kita mau belajar mencambuk diri kita? Iya kan? Kamu bisa kan mengubah dan memperbaiki diri menjadi yang terbaik? Insya Allah bisa selama kamu mau berusaha.
Bener banget! Tak sedikit yang berusaha bangkit, dan akhirnya mereka berhasil. Namun banyak juga yang sudah berkali-kali bangkit tapi harus jatuh pula berkali-kali. Mereka mengeluh? Ada yang mengeluh. Namun tak sedikit yang tetap fokus pada apa yang ingin diraihnya dan alhamdulillah berhasil. Maka, kuncinya adalah meluruskan niat, maksimalkan ikhtiar dan yakinlah bahwa Allah Swt akan menyempurnakannya dengan keberhasilan yang kita raih. Insya Allah.
Kerudung Dusta
Percaya atau tidak, tulisan ini emang terinspirasi dari obrolan anak-anak cewek waktu saya bantuin tim distribusi nyebarin gaulislam ke sekolah-sekolah. Di sebuah sekolah di kota Bogor, di Jl. Dr. Sumeru tepatnya, saya sempat merekam obrolan beberapa anak perempuan. Di antara mereka ada yang pake kerudung ada pula yang masih membiarkan rambutnya—yang merupakan bagian dari aurat—dilihat banyak orang. Nah, yang menarik adalah ketika ada seorang anak cewek yang manggil-manggil temannya dengan sebutan “kerudung palsu”. Entah apa maksudnya karena saya nggak konfirmasi ke anak cewek tersebut. Maklum, saya terburu-buru mau nyebarin gaulislam edisi cetak ini ke sekolah lainnya.
Jujur saya tergelitik dengan istilah yang dilontarkan anak cewek itu: kerudung palsu. Mungkin nih, tebakan saya adalah ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, dia sedang mengejek temannya yang pake kerudung karena sang teman perilakunya tidak mencerminkan layaknya perempuan yang menjaga kehormatannya melalui busana muslimah itu. Kemungkinan kedua, bisa juga cuma guyonan. Tetapi terlepas dari apa motif anak cewek itu melontarkan istilah “kerudung palsu”, akhirnya menjadi inspirasi bagi saya untuk menulis artikel di gaulislam dengan judul yang sedikit provokatif, yakni “kerudung dusta”. Insya Allah edisi cetaknya ini juga akan disebarkan ke sekolah tersebut. Dan, siapa tahu anak cewek yang komentar dan yang dikomentarin tersebut baca juga. Seru deh!
Bro en Sis, semoga saja artikel ini bisa menginspirasi kamu semua untuk mulai peduli hubungan antara busana dan perilaku pemakainya. Selain itu kita semua berharap bahwa sebagai muslim, pilihan kita dalam berbusana pun harus disesuaikan dengan ajaran agama kita. Nggak boleh sesuka kita. Tetapi memang ngikutin aturan yang berlaku. Sebab, untuk hal-hal mubah dalam kehidupan sehari-hari aja manusia bisa bikin aturan dan minta ditaati. Maka, Allah Swt, tentu saja lebih berhak untuk ditaati aturanNya. Iya kan?
Istilah “kerudung palsu” dan juga “kerudung dusta” muncul dengan suatu motif. Pasti banget bahwa setiap orang melakukan sesuatu atau berpendapat tentang sesuatu sesuai motifnya. Kita akan tahu apa yang dimaksudkannya setelah mengetahui motifnya berperilaku atau berpendapat. Itu sebabnya, penting bagi kita untuk mengetahui tujuan dan niatnya sera fakta di lapangan yang berkaitan dengan masalah tersebut.
Busana mengkomunikasikan pesan
Manusia, selain berkomunikasi secara tulisan dan lisan, juga menggunakan lambang dan simbol untuk melakukan komunikasi. Rambu-rambu lalu lintas contohnya. Kita bisa tahu maksudnya huruf P yang disilang, yakni kendaraan tidak boleh parkir di tempat yang dipasangi rambu tersebut. Maka jika kita markirin kendaraan di situ, udah pasti melanggar aturan. Tapi jangan juga ngeles kayak anekdot yang pernah saya baca. Tukang becak yang ngeyel dengan tetap ngetem di tempat yang sudah dipasangi rambu lalu lintas bergambar becak yang disilang, yang artinya becak nggak boleh ada di tempat itu. Tetapi ada tukang becak yang ngeles dengan mengatakan bahwa yang nggak boleh di situ kan gambar becak bukan becaknya. Hehehe… ini sih ngakalin memang. Maka, dalam lanjutan anekdot itu dikisahkan polisi yang negor tukang becak tersebut marah dengan mengatakan: “apakah kamu nggak sekolah, masa’ lambang gini nggak ngerti?” Eh, tukang becaknya nggak kalah berargumen: “Wah Pak, kalo saya sekolah dan pinter, mungkin sudah seperti Bapak!” Gubrak!
Nah, ngomong-ngomong soal kerudung (termasuk jilbab), ternyata busana juga bisa mengirimkan pesan lho. Sebab, busana, menurut Kefgen dan Touchie-Specht, mempunyai fungsi: diferensiasi, perilaku, dan emosi. Dengan busana, membedakan diri (dan kelompoknya) dari orang, kelompok, atau golongan lain. Dalam hal ini, kamu suka nemuin kan ada orang yang suka tampil beda dengan busana atau aksesoris lainnya. Sekelompok remaja puteri ada yang berani untuk mengenakan busana yang tak menutupi auratnya kalo keluar rumah. Sebagian yang lain merasa besar kepala bila keluar rumah pamer rambut indahnya, berhias berlebihan dan nyemprotin parfum ampe super wangi.
Perbedaan yang hendak dikomunikasikan melalui busana ini, tentunya agar orang tahu siapa dirinya. Agar semua orang bisa menilai dirinya tanpa perlu kita bicara secara lisan atau menyampaikan melalui tulisan. Busana, adalah bagian dari komunikasi melalui simbol.
Terus, busana juga bisa mengendalikan perilaku, lho. Kalo ada pak polisi mengenakan seragam polisi, maka biasanya beliau-beliau jaim alias jaga imej deh. Begitupun dengan remaja puteri, saat kamu memakai kerudung, maka perilaku kamu nggak bakalan “se-okem” ketika kamu berjins-ria. Ini fakta umum. Apalagi bagi yang udah sempurna berjilbab, nggak bakalan berani berperilaku yang norak, okem, senewen, atau malah urakan dan maksiat. Kecuali emang belum ngerti atau memang sengaja untuk kamuflase di tahap awal agar orang memandang dia baik perilakunya.
Hehehe.. ini juga fakta lho. Beberapa facebooker, menurut seorang kawan, ternyata PP alias foto profilnya mengenakan kerudung tetapi pada foto di ‘dalemannya’ malah ada penampilannya yang sedang membuka aurat. Nah, cerita teman saya itu, dia heran karena itu adalah temannya di jaman SMA, maka doi surprise dan menganggap sang teman sudah berubah. Eh, ternyata eh ternyata itu cuma di tampilan foto profilnya. Selebihnya, sang teman masih menampilkan fotonya dalam keadaan tak berkerudung. Waduh! Apakah ini bisa disebut kerudung dusta? Mungkin juga.
Bro en Sis, busana juga ternyata bisa berfungsi mengkomunikasikan emosi. Coba aja deh, kalo kamu nonton bola dengan bersegaram klub kebanggaan kamu, “nilai” teriak bin sorakknya lebih berharga (ciee.. emang gitu ya?). Kamu bisa lihat di televisi, bagaimana para penonton merasa terlibat secara emosi bila mengenakan kaos klub favoritnya.
So, buat para cewek wa akhwatuha, jadikan citra jilbab dalam perspesi sosial umum sebagai kebaikan; sopan, ramah, kalem, tahu agama, alim dan sebagainya. Jadi, seperti kata Kefgen dan Touchie-Specht, bahwa busana adalah “menyampaikan pesan”. Kamu menerima pesan di balik busana orang, kemudian merespon sesuai persepsi sosial kamu. Jadi, mungkin akan wajar kalo teman kamu akan bilang kerudung palsu atau kerudung dusta karena perilaku kamu bertentangan dengan busanamu. Intinya, busanamu mencerminkan perilakumu. Sebab, cara pandang seseorang akan mempengaruhi perilakunya.
Busana muslimah itu indah
Islam, sebagai agama yang sempurna memperhatikan pula tentang urusan pakaian. Yang indah itu yang bagaimana, yang sesuai syariat itu yang bagaimana. Semua dijelaskan oleh Islam. Bicara soal pakaian, Allah Swt, telah mengatur dalam firmanNya (yang artinya): “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.” (QS al-A’râf [7]: 26)
Nah, ngomong-ngomong syariat, busana muslimah tuh udah ada aturannya. Firman Allah Swt. (yang artinya): “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS al-Ahzab [33]: 59)
Saya coba ngasih penjelasan sedikit. Moga-moga aja kamu pada paham ya? Jilbab bermakna milhâfah (baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis), kain (kisâ’) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsawb) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus al-Muhîth dinyatakan demikian: Jilbab itu laksana sirdâb (terowongan) atau sinmâr (lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.
Nah, kalo kamu pengen tahu penjelasan tambahannya, ada juga keterangan dalam kamus ash-Shahhâh, al-Jawhârî menyatakan: Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhâfah) yang sering disebut mulâ’ah (baju kurung). Begitu sobat. Moga aja setelah ini nggak kebalik-balik lagi ketika membedakan antara jilbab dan kerudung.
Jadi pakaian muslimah itu? Nah, yang dimaksud pakaian muslimah, dan itu sesuai syariat Islam, adalah jilbab plus kerudungnya. Dan itu wajib dikenakan ketika keluar rumah atau di dalam rumah ketika ada orang asing (baca: bukan mahram) yang kebetulan sedang bertamu ke rumah kita or keluarga kita.
Sobat muda muslim, saya ‘cerewet’ begini bukan ngiri or nggak suka sama kamu. Tapi justru sebagai bentuk kepedulian. Tentu karena sayang sama kamu. Supaya ketika kamu berbuat patokannya adalah syariat Islam, bukan mode atawa selera kamu semata. Ok?
Semoga melalui tulisan ini, istilah kerudung palsu or kerudung dusta nggak melekat sama kamu. Sebab rugi banget deh, kamu pake kerudung tapi kamu masih dijuluki gajah alias gadis jahiliyah. Artinya, kerudung cuma nyangkut di kepala nutupin rambut dioang, tetapi pikiran kamu masih belum dihiasi dengan indahnya aturan Islam. Jika itu yang terjadi, pantas deh disebut kerudung dusta.
Yuk, benahi cara pandang kita tentang busana. Bahwa mengenakan busana muslimah itu kewajiban, bukan pilihan, apalagi atas dasar tren. Selain itu, poles pemikiran dan perasaan kamu dengan cara pandang ajaran Islam. Maka, nggak sekadar pake kerudung dan jilbab, tapi keilmuan kamu juga oke. Hebat kan? So, selamat tinggal kerudung dusta. Bye-bye kerudung palsu. So, jadilah muslimah betulan! Pasti bisa deh! Sip!
Jujur saya tergelitik dengan istilah yang dilontarkan anak cewek itu: kerudung palsu. Mungkin nih, tebakan saya adalah ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, dia sedang mengejek temannya yang pake kerudung karena sang teman perilakunya tidak mencerminkan layaknya perempuan yang menjaga kehormatannya melalui busana muslimah itu. Kemungkinan kedua, bisa juga cuma guyonan. Tetapi terlepas dari apa motif anak cewek itu melontarkan istilah “kerudung palsu”, akhirnya menjadi inspirasi bagi saya untuk menulis artikel di gaulislam dengan judul yang sedikit provokatif, yakni “kerudung dusta”. Insya Allah edisi cetaknya ini juga akan disebarkan ke sekolah tersebut. Dan, siapa tahu anak cewek yang komentar dan yang dikomentarin tersebut baca juga. Seru deh!
Bro en Sis, semoga saja artikel ini bisa menginspirasi kamu semua untuk mulai peduli hubungan antara busana dan perilaku pemakainya. Selain itu kita semua berharap bahwa sebagai muslim, pilihan kita dalam berbusana pun harus disesuaikan dengan ajaran agama kita. Nggak boleh sesuka kita. Tetapi memang ngikutin aturan yang berlaku. Sebab, untuk hal-hal mubah dalam kehidupan sehari-hari aja manusia bisa bikin aturan dan minta ditaati. Maka, Allah Swt, tentu saja lebih berhak untuk ditaati aturanNya. Iya kan?
Istilah “kerudung palsu” dan juga “kerudung dusta” muncul dengan suatu motif. Pasti banget bahwa setiap orang melakukan sesuatu atau berpendapat tentang sesuatu sesuai motifnya. Kita akan tahu apa yang dimaksudkannya setelah mengetahui motifnya berperilaku atau berpendapat. Itu sebabnya, penting bagi kita untuk mengetahui tujuan dan niatnya sera fakta di lapangan yang berkaitan dengan masalah tersebut.
Busana mengkomunikasikan pesan
Manusia, selain berkomunikasi secara tulisan dan lisan, juga menggunakan lambang dan simbol untuk melakukan komunikasi. Rambu-rambu lalu lintas contohnya. Kita bisa tahu maksudnya huruf P yang disilang, yakni kendaraan tidak boleh parkir di tempat yang dipasangi rambu tersebut. Maka jika kita markirin kendaraan di situ, udah pasti melanggar aturan. Tapi jangan juga ngeles kayak anekdot yang pernah saya baca. Tukang becak yang ngeyel dengan tetap ngetem di tempat yang sudah dipasangi rambu lalu lintas bergambar becak yang disilang, yang artinya becak nggak boleh ada di tempat itu. Tetapi ada tukang becak yang ngeles dengan mengatakan bahwa yang nggak boleh di situ kan gambar becak bukan becaknya. Hehehe… ini sih ngakalin memang. Maka, dalam lanjutan anekdot itu dikisahkan polisi yang negor tukang becak tersebut marah dengan mengatakan: “apakah kamu nggak sekolah, masa’ lambang gini nggak ngerti?” Eh, tukang becaknya nggak kalah berargumen: “Wah Pak, kalo saya sekolah dan pinter, mungkin sudah seperti Bapak!” Gubrak!
Nah, ngomong-ngomong soal kerudung (termasuk jilbab), ternyata busana juga bisa mengirimkan pesan lho. Sebab, busana, menurut Kefgen dan Touchie-Specht, mempunyai fungsi: diferensiasi, perilaku, dan emosi. Dengan busana, membedakan diri (dan kelompoknya) dari orang, kelompok, atau golongan lain. Dalam hal ini, kamu suka nemuin kan ada orang yang suka tampil beda dengan busana atau aksesoris lainnya. Sekelompok remaja puteri ada yang berani untuk mengenakan busana yang tak menutupi auratnya kalo keluar rumah. Sebagian yang lain merasa besar kepala bila keluar rumah pamer rambut indahnya, berhias berlebihan dan nyemprotin parfum ampe super wangi.
Perbedaan yang hendak dikomunikasikan melalui busana ini, tentunya agar orang tahu siapa dirinya. Agar semua orang bisa menilai dirinya tanpa perlu kita bicara secara lisan atau menyampaikan melalui tulisan. Busana, adalah bagian dari komunikasi melalui simbol.
Terus, busana juga bisa mengendalikan perilaku, lho. Kalo ada pak polisi mengenakan seragam polisi, maka biasanya beliau-beliau jaim alias jaga imej deh. Begitupun dengan remaja puteri, saat kamu memakai kerudung, maka perilaku kamu nggak bakalan “se-okem” ketika kamu berjins-ria. Ini fakta umum. Apalagi bagi yang udah sempurna berjilbab, nggak bakalan berani berperilaku yang norak, okem, senewen, atau malah urakan dan maksiat. Kecuali emang belum ngerti atau memang sengaja untuk kamuflase di tahap awal agar orang memandang dia baik perilakunya.
Hehehe.. ini juga fakta lho. Beberapa facebooker, menurut seorang kawan, ternyata PP alias foto profilnya mengenakan kerudung tetapi pada foto di ‘dalemannya’ malah ada penampilannya yang sedang membuka aurat. Nah, cerita teman saya itu, dia heran karena itu adalah temannya di jaman SMA, maka doi surprise dan menganggap sang teman sudah berubah. Eh, ternyata eh ternyata itu cuma di tampilan foto profilnya. Selebihnya, sang teman masih menampilkan fotonya dalam keadaan tak berkerudung. Waduh! Apakah ini bisa disebut kerudung dusta? Mungkin juga.
Bro en Sis, busana juga ternyata bisa berfungsi mengkomunikasikan emosi. Coba aja deh, kalo kamu nonton bola dengan bersegaram klub kebanggaan kamu, “nilai” teriak bin sorakknya lebih berharga (ciee.. emang gitu ya?). Kamu bisa lihat di televisi, bagaimana para penonton merasa terlibat secara emosi bila mengenakan kaos klub favoritnya.
So, buat para cewek wa akhwatuha, jadikan citra jilbab dalam perspesi sosial umum sebagai kebaikan; sopan, ramah, kalem, tahu agama, alim dan sebagainya. Jadi, seperti kata Kefgen dan Touchie-Specht, bahwa busana adalah “menyampaikan pesan”. Kamu menerima pesan di balik busana orang, kemudian merespon sesuai persepsi sosial kamu. Jadi, mungkin akan wajar kalo teman kamu akan bilang kerudung palsu atau kerudung dusta karena perilaku kamu bertentangan dengan busanamu. Intinya, busanamu mencerminkan perilakumu. Sebab, cara pandang seseorang akan mempengaruhi perilakunya.
Busana muslimah itu indah
Islam, sebagai agama yang sempurna memperhatikan pula tentang urusan pakaian. Yang indah itu yang bagaimana, yang sesuai syariat itu yang bagaimana. Semua dijelaskan oleh Islam. Bicara soal pakaian, Allah Swt, telah mengatur dalam firmanNya (yang artinya): “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.” (QS al-A’râf [7]: 26)
Nah, ngomong-ngomong syariat, busana muslimah tuh udah ada aturannya. Firman Allah Swt. (yang artinya): “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS al-Ahzab [33]: 59)
Saya coba ngasih penjelasan sedikit. Moga-moga aja kamu pada paham ya? Jilbab bermakna milhâfah (baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis), kain (kisâ’) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsawb) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus al-Muhîth dinyatakan demikian: Jilbab itu laksana sirdâb (terowongan) atau sinmâr (lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.
Nah, kalo kamu pengen tahu penjelasan tambahannya, ada juga keterangan dalam kamus ash-Shahhâh, al-Jawhârî menyatakan: Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhâfah) yang sering disebut mulâ’ah (baju kurung). Begitu sobat. Moga aja setelah ini nggak kebalik-balik lagi ketika membedakan antara jilbab dan kerudung.
Jadi pakaian muslimah itu? Nah, yang dimaksud pakaian muslimah, dan itu sesuai syariat Islam, adalah jilbab plus kerudungnya. Dan itu wajib dikenakan ketika keluar rumah atau di dalam rumah ketika ada orang asing (baca: bukan mahram) yang kebetulan sedang bertamu ke rumah kita or keluarga kita.
Sobat muda muslim, saya ‘cerewet’ begini bukan ngiri or nggak suka sama kamu. Tapi justru sebagai bentuk kepedulian. Tentu karena sayang sama kamu. Supaya ketika kamu berbuat patokannya adalah syariat Islam, bukan mode atawa selera kamu semata. Ok?
Semoga melalui tulisan ini, istilah kerudung palsu or kerudung dusta nggak melekat sama kamu. Sebab rugi banget deh, kamu pake kerudung tapi kamu masih dijuluki gajah alias gadis jahiliyah. Artinya, kerudung cuma nyangkut di kepala nutupin rambut dioang, tetapi pikiran kamu masih belum dihiasi dengan indahnya aturan Islam. Jika itu yang terjadi, pantas deh disebut kerudung dusta.
Yuk, benahi cara pandang kita tentang busana. Bahwa mengenakan busana muslimah itu kewajiban, bukan pilihan, apalagi atas dasar tren. Selain itu, poles pemikiran dan perasaan kamu dengan cara pandang ajaran Islam. Maka, nggak sekadar pake kerudung dan jilbab, tapi keilmuan kamu juga oke. Hebat kan? So, selamat tinggal kerudung dusta. Bye-bye kerudung palsu. So, jadilah muslimah betulan! Pasti bisa deh! Sip!
Subscribe to:
Posts (Atom)